Monday, December 26, 2016

Sehat Yang Berpahala

“Mungkin hasil yang diraih seorang yang berpuasa hanya lapar dan haus, dan mungkin hasil yang dicapai seorang yang shalat malam (Qiyamul Lail) hanya lelah berjaga” (H.r. Ahmad dan al-Hakim).

Amal membutuhkan kontinuitas. Karena, tidak ada lagi orang yang dijamin masuk surga di zaman ini. Tidak peduli ia seorang ustadz sekaliber apa pun, tidak peduli berapa forum kajian yang ia pimpin, kesungguhan dalam beramal harus selalu ditingkatkan. Ditingkatkan! Tidak sekadar dijaga. Karena, sama dengan hari kemarin berarti kerugian1 Untung baru diraih ketika usaha meraih yang terbaik, peningkatan dari amal yang lalu, bisa dihadirkan.

Jika menilik pada hadis di atas, kenapa terjadi seperti itu pada kebanyakan hamba-Nya?

Tentu tidak bermakna seorang hamba lantas bisa berputus asa, khawatir berlebihan, “jangan-jangan amalku tidak diterima”, hingga memilih menyedikitkan amal. Bukan…. Na’udzubillah.

Itu semua lebih bermakna betapa sayangnya Allah dan Sang Junjungan Shallallahu ‘alaihi wasallam (Saw.) pada kita, agar meski kita menjaga rutinitas dan kontinuitas amal; tidak berarti kita mengerjakan ibadah “ala kadarnya”.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Thayyib (terlepas dari noda dan kekurangan), tidak menerima sesuatu kecuali yang thayyib….” (H.r. Muslim).

Karena Allah Maha Mengetahui, kejenuhan begitu berbahaya, lalu bagaimana menangkalnya?

jadilah hamba yang berilmu! Dengannya akan ditemui banyak alasan beramal dan menjaga semangat serta kekhusyukan.

Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang dua orang, yang satu ahli ibadah, dan satunya lagi orang yang berilmu. Maka beliau Saw. menjawab, “Kelebihan orang yang berilmu atas ahli ibadah sama dengan kelebihanku atas orang yang paling hina di antara kalian”.

setelah itu beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, termasuk pula semut di dalam liangnya, termasuk pula ikan paus, benar-benar bersalawat kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (H.r. at-Tirmidzi).

Ya, ketika menjadi orang yang berilmu, ia tidak akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dari amal. Yang mengilhami tiap gerak, juga ibadah. Itulah “ruh” dari amal.

Letih jika kita hanya memikirkan target (semisal sekian juz per hari), menjadikan amalan itu sebagai rutinitas belaka, hanya terjebak pada angka dan amalan rutin. Tak heran, banyak orang yang berpuasa tapi hanya mendapat lapar dan dahaga, juga banyak orang yang shalat namun mendapatkan kelelahan dan keletihan saja.

Ada banyak cara menjaga “ruh” itu tetap bersinar. Memahami manfaat medis dari setiap ibadah, insya Allah menjadi salah satu jalannya.

Kita kelilingi hari mulai dari bangun tidur hingga terlelap kembali, sesuai menu Sang Junjungan. Semuanya lengkap dengan manfaat bagi kesehatan, bersumber dari dunia nyata dari berbagai ilmu di dunia nyata (termasuk dari dunia maya, internet), yang insya Allah terjamin keabsahannya.

Diawali dari Tahajud saat matahari belum beranjak dari peraduan, disambung dengan ibadah wajib yang begitu sering terlalai, shalat Subuh.

Tidur kembali setelahnya? Jangan! Segera beraktivitas, tak lupa diselingi dengan zikir dan do’a dalam split waktu yang tersedia.

Tengah hari, ambil rehat untuk produktivitas setengah hidup berikutnya. Lanjutkan aktivitas, tapi jangan lupakan lima Waktu, itulah tiang agama. Geser sedikit saja, robohlah bangunan agamamu! Tambahkan dengan shalat sunnah, untuk menjamin sempurnanya amal penentu di hari akhir ini.

Ternyata, semua fakta menunjukan bahwa tiada kesiasiaan dalam setiap napas ibadah dalam dien ini. Sungguh menakjubkan! Subhanallah….

Selamat menikmati, semoga “ruh” itu tetap bersinar. Nikmat memang dalam berislam: sudah menyehatkan, berpahala pula!

Dikutip dari buku tulisan “Egha Zainur Ramadhani”.